Menjadi Santri Selamanya Rabu kemarin, 20 Oktober 2021, saya datang ke Pesantren Al-Falah Puteri, yang kini dipimpin oleh kakak kelas saya, Ustadz Mukhlish Kasyful Anwar, untuk acara "Bincang Buku dan Roadshow Penulis" yang dilaksanakan oleh Perpusda Banjarbaru. Saat memperkenalkan seorang penulis muda yang juga menjadi pembicara, moderator menyebut berbagai platform digital dan akun media sosial. Moderator tampaknya tidak menyadari bahwa di Al-Falah, santri tidak boleh memegang ponsel dan mengakses internet kecuali untuk keperluan terbatas. Dunia santri memang dunia yang dalam batas tertentu punya kekhasan tersendiri. Abdurrahman Wahid menyebutnya "subkultur". Jika kita ingin berbicara tentang budaya menulis, maka dalam budaya santri kita mungkin harus memulainya dengan budaya muthala'ah, membaca teks kitab kuning sebelum dan sesudah dibacakan oleh guru. Muthala'ah bisa dilakukan sendirian ataupun berteman. Saya dulu punya tiga kawan akrab untuk muthala...